Kuliner Sukoharjo

Roti Widoro, Resep Kerajaan yang Kini Jadi Oleh-Oleh Khas Sukoharjo

Dalam proses pembuatannya hanya butuh waktu 10 menit dari bahan mentah hingga keluar dari oven pemanggangan.

Penulis: Muhammad Irfan Al Amin
Editor: Ekayana
TRIBUNSOLOTRAVEL/MUHAMMADA IRFAN AL AMIN
Roti Widoro di Sukoharjo, Selasa (22/6/2021) 

Laporan Wartawan TribunSoloTravel.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM, SUKOHARJO - Bila pergi ke Sukoharjo tak lengkap rasanya bila tidak membawa oleh-oleh Roti Widoro.

Roti yang sudah eksis sejak tahun 1922 ini ternyata mulanya disajikan oleh seorang koki kerajaan.

Baca juga: Viral! Kuliner Soto Ayam Mbok Sri di Boyolali, Jual Soto Hanya Rp 2 Ribu

Baca juga: Mencicipi Serabi Kocor di Pinggir Jalan Bantul Km 6, Sudah Ada Sejak 1998

Menurut pengelola pabrik dan toko roti Widoro, Sri Hantanto (48), ide dan resep roti berasal dari kakeknya yang bernama Wongso Dinomo.

"Dahulu kakek ada seorang koki Kraton Surakarta yang kemudian pulang ke daerah asalnya di Sukoharjo," katanya pada Selasa (22/6/2021).

Sang kakek yang menguasai aneka resep makanan kerajaan memilih membuat usaha roti dan dia beri nama sesuai nama dusun yang dia pijaki.

"Nama Widoro ini sendiri berasal dari nama dusun yaitu, Dusun Widoro, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo," ujarnya.

TribunSoloTravel.com berkesempatan menyaksikan langsung proses pembuatan roti tersebut.

Uniknya roti Widoro menggunakan bahan telur bebek dan bukan telur ayam.

"Telur bebek berfungsi sebagai pengembang alami sehingga terasa nikmat saat disantap," terangnya.

Proses pembuatan roti Widoro di Dusun Widoro, Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo pada Selasa (22/6/2021)
Proses pembuatan roti Widoro di Dusun Widoro, Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo pada Selasa (22/6/2021) (TRIBUNSOLOTRAVEL/MUHAMMADA IRFAN AL AMIN)

Selain itu proses pembuatan juga masih manual dan minim bantuan alat teknologi.

"Pegawai saya 6 orang dan laki-laki semua, jadi dari tepung gandum dan adonan lainnya diaduk menjadi satu hingga proses pengemasan kami lakukan secara manual," jelasnya.

Dalam proses pembuatannya hanya butuh waktu 10 menit dari bahan mentah hingga keluar dari oven pemanggangan.

"Hanya lama di awal saja, karena butuh pemanasan di oven," ungkapnya.

Kini setidaknya ada 600-700 roti Widoro yang selalu tersajikan dan siap dinikmati.

"Kami jual dari harga Rp 6-8 ribu," ucapnya.

Harganya yang ekonomis sebanding lurus dengan rasanya yang renyah dan gurih, terasa manisnya yang alami, sehingga tidak membuat sakit gigi.

"Ini biasanya jadi oleh-oleh atau roti hajatan di desa," ungkapnya.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved