Pariwisata Bali Sekarat, Pemerintah Kini Luncurkan Program Work From Bali

Untuk sebuah hotel bisa membayar biaya perawatan, paling tidak occupancy rate harus mencapai 30-40 persen.

Editor: Ekayana
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOB
Penampakan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) dari udara usai diresmikan di Kuta Selatan, Bali, Minggu (25/09/2018). Patung setinggi 121 meter dengan lebar 64 meter tersebut resmi diresmikan dan menjadi patung tertinggi ketiga di dunia 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves Odo R M Manuhutu membeberkan bahwa program Work From Bali (WFB) dibuat oleh pemerintah.

Hal tersebut berdasarkan kondisi pariwisata di Bali yang saat ini sedang sekarat.

Ia menjelaskan bajwa banyak hotel-hotel yang beroperasi di Bali dengan okupansi minimum atau kurang dari 10 persen.

Dengan okupansi hotel yang hanya terisi 10 persen, dia menjelaskan bahwa hotel-hotel di Bali kesulitan untuk membayar gaji karyawan, bahkan perawatan hotel.

Baca juga: Stasiun Cikampek di Jawa Barat Kini Layani GeNose untuk Penumpang KA Jarak Jauh

Baca juga: Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Akan Kembali Dibuka Pada Juni-Juli 2021

"Akomodasi di Bali terdapat 140.000 kamar, bayangkan kalau 140.000 itu hanya terisi kurang dari 10 persen. Artinya, banyak tenaga kerja yang ada di Bali tidak bekerja selama 10-14 bulan," kata Odo dalam konferensi pers virtual, Sabtu (22/5/2021).

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa untuk sebuah hotel bisa membayar biaya perawatan, paling tidak occupancy rate harus mencapai 30-40 persen.

Sementara, Odo menyampaikan, selama berbulan-bulan, occupancy ratehotel-hotel di Bali hanya di kisaran 8-10 persen.

Menurutnya, situasi tersebut sangat tidak menguntungkan bagi para pekerja di sektor perhotelan. Odo menceritakan pengalamannya saat menjalankan Bali Investment Forum dengan BI di Nusa Dua Hotel di Bali.

Selama berbulan-bulan okupansi rate hotal itu hanya berkisar di 8-10 persen. Namun, saat acara tersebut digelar, okupansi rate hotel itu meningkat perlahan-lahan hingga mencapai 50 persen.

"Jadi salah satu cerita, ini adalah cerita nyata seorang pekerja di salah satu hotel itu mengatakan selama empat bulan tidak bekerja, hanya di rumah dan terpaksa makan tabungan.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved