Kuliner di Asia

Menikmati Kuliner Roti Kembang Waru, Kuliner Mewah Zaman Mataram Islam di Yogyakarta

Untuk peninggalan Mataram Islam, salah satu yang kini masih bisa dijumpai adalah kuliner tradisional.

Editor: Ekayana
Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya
Pembuatan roti kembang waru khas Kerajaan Mataram Islam yang masih tradisional 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalunya.

Dahulu, di tanah Yogyakarta pernah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang berjaya di masanya.

Mataram Kuno dan Mataram Islam menjadi dua kerajaan besar yang pernah berjaya di wilayah Yogyakarta.

Meski sama-sama bernama Mataram, keduanya merupakan kerajaan yang berbeda. 

Baca juga: Berkenalan dengan Kuliner Asal Wallacea, Ada Pallu Kaloa Sampai Sup Hitam dan Tabu Moitomo

Baca juga: Soganli Tavuk, Kuliner Legendaris Asal Turki, Sudah Ada Sejak Tahun 1300

Mataram Kuno berdiri pada abad ke-8, sementara Mataram Islam berdiri pada abad ke-17. Kini Mataram pun tak hanya sekadar cerita sejarah semata. Ada banyak peninggalan sejarah yang masih bisa bisa ditemukan.

Untuk peninggalan Mataram Islam, salah satu yang kini masih bisa dijumpai adalah kuliner tradisional. Sajian tersebut adalah roti kembang waru yang bisa ditemukan di kawasan ibu kota pertama kerajaan ini, Kotagede.

Tempat roti ini dibuat saat ini ada di Kampung Bumen yang terletak sekitar 500 meter timur laut Pasar Kotagede. Ada 20 pembuat roti kembang waru di kampung ini yang beranggotakan 23 keluarga, salah satunya adalah Basiran Basis Hargito.

Sajian untuk acara kerajaan

Ketika ditemui Kompas.com, pria yang disapa Basis ini mengatakan kalau pada zaman dahulu, roti ini biasa disajikan ketika keraton sedang menggelar acara seperti mitoni, selapanan, tekanan, manten, atau lamaran.

Roti Kembang Waru khas Kotagede, Yogyakarta yang empuk, wangi, dan manis
Roti Kembang Waru khas Kotagede, Yogyakarta yang empuk, wangi, dan manis (Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)

Nama kembang waru pada roti ini dikarenakan bentuknya yang menyerupai bunga waru. Diceritakan dahulu di sekitar Keraton Kotagede terdapat banyak pohon waru yang berbunga, tetapi tidak produktif.

Selain tidak pernah berbuah, kayu pohon waru pun tidak cocok jika dipakai untuk bahan konstruksi bangunan. Juru masak kerajaan pun membuat cetakan roti dari bunga waru karena mudah untuk ditiru.

Pria yang mulai membuat roti kembang waru sejak 1983 ini menjelaskan, saat ini bahan pembuat roti sedikit mengalami perubahan. Jika zaman dulu menggunakan telur kampung dan tepung ketan, maka sekarang bahannya dari telur ayam petelur dan tepung terigu.

Sementara untuk pewanginya, jika dahulu menggunakan daun pandan, maka sekarang ini menggunakan vanili. Meski demikian, rasa dan kualitasnya  tetap terjaga seperti aslinya.

Empuk, wangi dan manis Basis melanjutkan, untuk menjaga rasa dan kualitas, maka teknik memasak roti kembang waru masih menggunakan cara tradisional. Kompor untuk memasak roti ini masih memakai arang, bukan gas ataupun minyak.

Pembuatan roti ini dilakukan dengan memasukkan adonan ke dalam semacam oven tradisional. Ia menjelaskan, cara inilah yang menjaga roti kembang waru tetap sama seperti aslinya. Setelah matang, maka adonan dikeluarkan dari oven dan jadilah roti kembang waru.

Saat dimakan, roti ini begitu empuk dengan aroma yang wangi dan rasanya pun manis. Saat ini, roti kembang waru masih banyak dipesan masyarakat yang akan mengadakan acara. Harga per satu roti saat ini adalah Rp 2.000 saja.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Mencicipi Roti Kembang Waru, Kuliner Mewah Zaman Mataram Islam

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved