Kuliner di Asia

Berkenalan dengan Kuliner Asal Wallacea, Ada Pallu Kaloa Sampai Sup Hitam dan Tabu Moitomo

Pantollo pamarasan yang merupakan menu kuliner khas dari Toraja dengan 13 jenis bahan, daging pilihan, bumbu rempah dan kluwak.

Editor: Ekayana
istimewa via Tribun Timur
Kuliner pallu kaloa dari Makassar menggunakan 16 jenis bahan, termasuk ikan, kelapa sangrai dan kluwak. 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Pecinta traveling nusantara pasti pernah mendengar Wallacea? Bagi sebagian orang nama tersebut belum begitu familiar, padahal lokasinya ada di Indonesia.

Tidak hanya destinasi wisatanya yang keren, Wallacea juga keren di urusan wisata kuliner.

Wallacea merupakan nama untu merujuk sebuah kawasan yang mencakup Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

Baca juga: Cerita Dibalik Suburnya Penggemar Kuliner Anjing di Solo: Bikin Badan Hangat dan Buat Pria Perkasa

Baca juga: Pemerintah Larang Tempat Wisata Sajikan Atraksi Lumba-lumba, Ada Sanksi Jika Melanggar

Selain kaya akan ekosistem biologis juga punya daya tarik dari sisi kuliner.

Amanda Katili Niode dalam acara Webinar bertajuk Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea, yang diadakan Minggu (18/4/2021) mencontohkan, beberapa daerah di Sulawesi mempunyai menu kuliner bernama sup hitam sebagai makanan tradisional dengan kluwak sebagai salah satu bahannya, ditambah berbagai jenis bumbu dan rempah.

Begitu juga, pantollo pamarasan yang merupakan menu kuliner khas dari Toraja dengan 13 jenis bahan, daging pilihan, bumbu rempah dan kluwak.

Ada juga pallu kaloa dari Makassar menggunakan 16 jenis bahan, termasuk ikan, kelapa sangrai dan kluwak. Serta, sop konro juga dari Makassar yang terdiri dari 23 jenis bahan, termasuk bumbu rempah dan kluwak.

Kuliner ini masih punya kemiripan dengan Tabu Moitomo dari Gorontalo yang menggunakan 30 jenis bahan termasuk bumbu dan rempah.

Bedanya dengan sup hitam daerah lain, warna hitam Tabu Moitomo diperoleh dari kelapa sangrai.

Ragam kuliner Wallacea lainnya juga dipaparkan oleh Meillati Batubara dari Nusa Indonesia Gastronomy.

"Hal itu membuat Omar Niode Foundation bersama The Climate Reality Project Indonesia tertarik untuk mengekspose kembali kawasan ini bertepatan dengan World Food Travel Day,” ujar Amanda.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved