Wisata Sejarah Dunia

Lebih Dikenal sebagai Gereja Ayam, Ini Fakta Bukit Rhema di Magelang yang Miliki Banyak Julukan

Menurut salah satu pengelola yang bekerja disana, Yono (60), tempat tersebut mulai dikunjungi wisatawan pada akhir tahun 2000an.

Editor: Ekayana
Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia
Bukan ayam, bangunan ini ternyata di desain mirip merpati 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Berkunjung ke Magelang, selain melihat matahari terbit di Phuntuk Setumbu, Anda disuguhkan satu destinasi lain yang tak kalah eksotik, yaitu Bukit Rhema atau yang terkenal dengan sebutan Gereja Ayam.

Dengan jarak yang tak terlalu dekat dengan Phuntuk Setumbu membuat kedua destinasi ini menjadi paket bagi wisatawan yang berkunjung.

Baca juga: Pertengahan Maret 2021, Penumpang Bandara I Gusti Ngurah Rai Naik 35 Persen

Baca juga: PHRI Gianyar Berharap Pariwisata Bali Bisa Buka Tahun Ini

Menurut salah satu pengelola yang bekerja disana, Yono (60), tempat tersebut mulai dikunjungi wisatawan pada akhir tahun 2000an.

 “Sudah beberapa kali dikunjungi akhir tahun 2000an, meski baru sangat terkenal di media sosial tahun 2016 dari film AADC,” ujar Yono.

Sebelum Anda berkunjung kesana, berikut fakta-fakta yang dihimpun dari para pengelola wisata tersebut:

Berlokasi di tengah perbukitan

Bangunan tersebut berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Terkenal dengan sebutan Gereja Ayam atau Gereja Merpati ini berlokasi di tengah perbukitan dan hutan yang cukup lebat.

Meskipun Anda datang dari Borobudur yang hanya berjarah 2.5 kilometer, juga Anda perlu trekking sekitar 150 meter ke atas bukit. Jika Anda dari Phuntuk Setumbu trek yang akan Anda lalui lebih menantang.

Meskipun begitu, hanya memakan waktu 20 menit menuruni bukit dengan jalan setapak di tengah rapatnya pepohonan.

Jadi sediakan alas kaki yang mempuni seperti sepatu outdoor, atau minimalnya sandal gunung agar tidak licin saat naik turun bukit.

Bukan merupakan “Gereja Ayam”

Salah satu penjaga, Sarmin mengatakan bangunan tersebut sebenarnya belum selesai sempurna karena keterbatasan dana serta pertentangan dari warga sekitar.

"Bangunan ini memang dibangun oleh seorang kristiani bernama Daniel Alamsjah. Sebelumnya dia mendapat pesan dari Tuhan untuk membangun sebuah rumah ibadah dengan bentuk burung merpati," ujar Sarmin, salah satu penjaga, sambil menunjukan prasasti yang dibuat oleh Daniel Alamsjah.

Rumah ibadah itulah yang diperuntukan bagi seluruh umat menurutnya. Hanya karena Daniel seoran kristiani, warga melihatnya sebagai sebuah gereja. Selain itu ternyata bukan merupakan bantuk ayam, tetapi merpati.

Menurut pemiliknya ini tempat bagi semua orang yang percaya pada Tuhan, dan bentuknya lebih ke merpati, dengan warna putih dan badan yang lebih panjang,”ujar Yono di depan pintu masuk.

Sebelum terbengkalai, rumah doa tersebut dibangun mulai tahun  1991, hingga kepalanya pada tahun 1995. Di tahun 2000 awal sempat ditutup karena pertentangan dari warga sekitar.

Banyak ruangan bawah tanahnya

Jika Anda berkunjung ke sana, mulai tahun 2016 pertengahan, kesan angker memang sudah tak terlalu terasa. Ini akibat pembersihan dan pemugaran yang dilakukan di area utama yaitu aulanya.

Terlebih di bagian atas  sudah dipercantik dengan lukisan-lukisan seniman yang syarat pesan moral. Namun cobalah Anda menyusuri ruang bawah tanahnya.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved