Berita Indonesia Terbaru

Hadapi Pemotongan Cuti Bersama, PHRI Yogyakarta Pasrah

Dari total sekitar 400 anggota, sudah ada sekitar 200 hotel dan restoran yang terpaksa tutup selama pandemi berlangsung.

Shutterstock
Malioboro (Shutterstock) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pasrah menghadapi kebijakan pemotongan cuti bersama 2021.

Hal tersebut diungkapkan Ketua PHRI, DPD DIY Deddy Pranowo Ernowo.

“Saat ini kita pasrah saja karena sudah tidak bisa apa-apa lagi tanpa sentuhan pemerintah dengan pemberian insentif, stimulus, relaksasi,” kata Deddy, Selasa (23/2/2021).

Baca juga: Disparbud Garut Anggap Pemangkasan Cuti Bersama 2021 Bisa Pengaruhi Pendapatan Warga

Baca juga: 5 Tips Berwisata pada Musim Hujan, Konsumsi Vitamin Agar Badan Tetap Fit

Menurut Deddy, pemangkasan cuti bersama 2021 yang dilakukan pemerintah ini turut memangkas kesempatan para anggota PHRI untuk bisa bertahan dari pandemi Covid-19.

“Dan juga menunjukkan tidak konsistennya pemerintah menerapkan antara ekonomi dan kesehatan berjalan seiring sejalan karena ini membuat kita semakin berat, setelah PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diperpanjang ini,” tegas Deddy.

Sejauh ini, Deddy mengakui kondisi anggota PHRI DIY sudah sangat memprihatinkan. Dari total sekitar 400 anggota, sudah ada sekitar 200 hotel dan restoran yang terpaksa tutup selama pandemi berlangsung.

Hotel dan restoran tersebut ada yang tutup, sementara dan ada juga yang tutup permanen akibat tidak lagi sanggup beroperasi. Sementara sekitar 200 hotel dan restoran sisanya masih beroperasi, walaupun dengan napas terengah-engah. Terkait okupansi, Deddy mengakui beberapa waktu ini cukup terbantu dengan Pemerintah Daerah DIY yang menyetujui usulan PHRI DIY terkait pelaksanaan kegiatan di hotel. 

Hotel-hotel di DIY memiliki rata-rata okupansi 25 persen karena adanya penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seperti pernikahan atau rapat di hotel. Ia menambahkan, bahwa sejauh ini PHRI DIY tak lagi memiliki strategi apa pun untuk menghadapi pemangkasan cuti bersama ini. Mereka hanya bisa memohon bantuan pemerintah, seperti adanya relaksasi, insentif, dan stimulus yang diberikan secepat mungkin untuk bisa membuat mereka bertahan lebih lama lagi.

“Kita mau buat strategi apa lagi bisa selalu dikandaskan dengan kebijakan pemerintah yang tidak lagi membuat kita bisa bergerak,” pungkasnya. Baca juga: Cuti Bersama Dipotong, Kabupaten Bandung Targetkan Wisatawan Lokal Sebelumnya, pemerintah Indonesia resmi memotong cuti bersama 2021.

Jumlah cuti bersama yang awalnya mencapai tujuh hari, kini dipotong menjadi dua hari saja. Pemangkasan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pasalnya, hingga kini kurva peningkatan Covid-19 masih belum landai. Selain itu, setiap habis libur panjang selalu ada kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 karena mobilitas masyarakat yang cenderung naik.

Pemangkasan cuti bersama 2021 dilakukan untuk Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada 12 Maret, Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah pada 17-19 Mei, dan Hari Raya Natal 27 Desember. Sementara itu, cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah pada 12 Mei dan Hari Raya Natal pada 24 Desember tetap ada.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : PHRI Yogyakarta Hadapi Pemotongan Cuti Bersama: Pasrah

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved