Berita Indonesia Terbaru

Pariwisata Labuan Bajo Akan Dikembangkan, KSDA Sebut Tidak Akan Merelokasi Penduduk

Selain tidak ada relokasi, Wiratno melanjutkan bahwa pengembangan tersebut malah bisa meningkatkan kesejahteraan para penduduk.

HANDOUT/BOPLBF)(HANDOUT/BOPLBF
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Pulau Komodo kini dalam proses pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo.

Penduduk desa yang berada di sekitar wilayah tersebut nantinya tidak akan direlokasi.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno. 

Baca juga: Menikmati Keindahan Spot Terbaik di Danau Toba, Adian Nalambok

Baca juga: Disneyland Hong Kong Akan Kembali Buka Pada 19 Februari 2021

“Tidak ada relokasi penduduk. Kita ada zona khusus di sana sekitar 310,09 hektar untuk permukiman,” kata dia dalam Konferensi Pers Virtual Progres Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo, Jumat (19/2/2021).

Selain tidak ada relokasi, Wiratno melanjutkan bahwa pengembangan tersebut malah bisa meningkatkan kesejahteraan para penduduk.

Pemerintah berusaha untuk melakukan upaya konservasi dan juga pemberdayaan masyarakat yang ada di KSPN Labuan Bajo.

Salah satu upaya konservasi yang saat ini sedang berjalan adalah adanya pemagaran di Kampung Komodo, Kerora, dan Rinca sepanjang kurang lebih 1,4 kilometer (km) karena adanya kasus seorang anak yang digigit komodo.

Pelatihan dan bantuan usaha

Wiratno juga mengungkapkan soal kerja sama Ditjen KSDA dan Balai Taman Nasional (TN) Komodo untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat Kemitraan Konservasi. “Jadi masyarakat desa itu kita bantu juga berbagai pengembangan yang terkait dengan tourism, terutama di Kampung Komodo yang sudah sebagian besar terlibat dengan pengembangan pariwisata,” imbuh dia.

Salah satu contoh komunitas yang terlibat dalam Kemitraan Konservasi adalah kelompok nelayan Lingkar Ihang Ata Modo di Desa Komodo). Selain itu, ada pula kelompok Duli Ngenco, yakni masyarakat pengambil hasil hutan non-kayu berupa asam di Desa Komodo. Mereka mendapat bantuan usaha ekonomi dan pelatihan pengemasan asam. 

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved