Destinasi Alam Mengagumkan

Menikmati Keindahan "Surganya" Karang Indonesia, Taka Bonerate di Sulawesi Selatan

Setelah dinobatkan menjadi kawasan konservasi, barulah Belanda mengubahnya menjadi Taka Bonerate, yang diambil dari bahasa lokal setempat.

Asri/TN Taka Bonerate
Jembatan di Pulau Tinabo, Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Taman Nasional Taka Bonerate telah dikenal sejak dulu. Kawasan ini bahkan ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Belanda pada era kolonial.

Dari peninggalan peta tahun 1901 kawasan ini telah dikenal oleh bangsa Belanda, tetapi bukan sebagai Taka Bonerate. Melainkan Tijger Eilanden, atau dalam bahasa Indonesia Kepulauan Macan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa disebut Kepulauan Macan.

Baca juga: Pernah Jadi Tempat Warga Buang Sampah, Sungai di Jombang Ini Kini Jadi Area Makan Instagramable

Baca juga: Pandemi, Pengelola Kawasan Wisata Borobudur Harap Pemerintah Izinkan Program Vaksinasi Mandiri

Setelah dinobatkan menjadi kawasan konservasi, barulah Belanda mengubahnya menjadi Taka Bonerate, yang diambil dari bahasa lokal setempat.

"Taka itu karang, Bone itu pasir, dan rate itu atas, jadi kalau diartikan secara harfiah 'Hamparan Karang Di Atas Pasir'," ungkap Asri, Humas Pusat Data Informasi TN Taka Bonerate, saat perayaan Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sabtu (31/8/2018).

Hingga saat ini status kawasan konservasi berangsur naik. Dari kawasan konservasi menjadi cagar alam laut melalui SK Menteri Kehutanan No. 100/kpts-II/1989.

Ditunjuknya Taka Bonerate sebagai cagar alam laut dikarenakan Taka Bonerate merupakan hamparan karang berbentuk cincin (atol) dan terdapat habitat khusus serta ekosistem terumbu karang (lamun). Semua kekayaan itu diperuntukkan sejak dahulu untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Pemukiman Suku Bajo yang khas di kawasan TN Taka Bonerate, Sulawesi Selatan
Pemukiman Suku Bajo yang khas di kawasan TN Taka Bonerate, Sulawesi Selatan (Asri/PEH Balai TN. Taka Bonerate)

Pada tahun 1992, Taka Bonerate ditunjuk menjadi Taman Nasional (TN). Pada 2001 menjadi Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Taka Bonerate, dengan luas kawasan 530.765 hektar yang dikelola dengan sistem zonasi.

Lembaga internasional UNESCO mulai melirik TN Taka Bonerate pada 2015. Saat itu TN Taka Bonerate dinobatkan sebagai core zone dari cagar biosfer yang meliputi luasan satu kabupaten Kepulauan Selayar dengan nama Cagar Biosfer Taka Bonerate - Kepulauan Selayar. Hingga kini TN Taka Bonerate mencakup 18 pulau kecil, lima bungin, dan 30 taka yang tersebar membentuk cincin/atol.

Terdapat tujuh buah pulau yang berpenghuni yakni Pulau Tarupa, Pulau Rajuni Kecil, Pulau Rajuni Besar, Pulau Latondu Besar, Pulau Jinato, Pulau Pasitallu Tengah, dan Pulau Pasitallu Timur yang didiami oleh mayoritas suku Bugis dan Bajo.

"Suku Bajo di Taka Bonerate itu beda dengan di Sulawesi Selatan yang lain. Tinggalnya di pulau pasir yang sewaktu-waktu bisa pasang," tutur Asri.

Ia menuturkan, menurut informasi masyarakat lokal, dari dulu bahkan dari zaman Belanda kawasan Taka Bonerate sering dikunjungi oleh nelayan dari erbagai daerah karena potensi perikanannya.

Begitu pun sebaliknya. Para nelayan Taka Bonerate melanglangbuana ke daerah lain untuk menjual hasil lautnya. Jadi sudah sejak dulu sektor perikanan di Taka Bonerate berkembang dengan baik.

"Harapannya ke depan sektor pariwisatanya bisa berkembang dengan baik juga, supaya Taka Bonerate bisa lebih dikenal lagi bahkan hingga ke mancanegara," pungkas Asri.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Taka Bonerate, "Surganya" Karang Indonesia

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved