Berita Indonesia Terbaru

Okupansi Hotel Tertinggi di Kota Malang Hanya 20 Persen Saat PPKM Diberlakukan

beberapa hotel masih mendapatkan kunjungan, meski tidak banyak. Rata-rata okupansi tertinggi selama PPKM hanya 20 persen.

Editor: Ekayana
KOMPAS/DAHLIA IRAWATI
Kawasan Kayutangan, Kota Malang, dengan latar belakang pemandangan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Kayutangan, Kamis (3/3/2016). (KOMPAS/DAHLIA IRAWATI) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM) di Kota Malang, sektor perhotelan dan pariwisata di Kota Malang kini terpuruk.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki, ada hotel yang tidak mendapatkan kunjungan sama sekali.

Baca juga: Keindahan Wisata Tao Silalahi di Pinggir Danau Toba, Wisatawan Bisa Camping dan Nikmati Udara Segar

Baca juga: Pakai Visa Kunjungan untuk Bisnis, Turis Asing di Bali Dideportasi

Ia melanjutkan, beberapa hotel masih mendapatkan kunjungan, meski tidak banyak. Rata-rata okupansi tertinggi selama PPKM hanya 20 persen.

Jumlah itu masih tergolong rendah dan masih berada di bawah break even point (BEP) atau capaian pengembalian modal hotel. 

"BEP kalau hotel itu okupansinya sekitar 40 persen," kata Agoes kepada Kompas.com melalui sambungan telpon, Minggu (24/1/2021). Ia melanjutkan, Januari memang merupakan bulan low season atau bulan dengan kunjungan wisatawan yang rendah.

Kondisi itu diperburuk dengan pelaksanaan PPKM, sehingga pelaku usaha hotel makin merugi. Biasanya okupansi tinggi saat malam tahun baru, Desember akhir.

Dengan PPKM ini, tambah dihajar lagi dengan pengetatan dan sebagainya. Ada pembatasan, sehingga dunia pariwisata, khususnya hotel yang paling parah, jelas terdampak sekali," ujar Agoes. PPKM pun, menurut dia, membuat masyarakat enggan berwisata. Padahal, pihaknya telah menerapkan segala protokol kesehatan Covid-19.

Sebagian hotel juga sudah memiliki sertifikat CHSE atau cleanliness (Kebersihan), health (Kesehatan), safety (Keamanan), dan environment sustainability (Kelestarian Lingkungan). Hal itu dilakukan pengelola hotel untuk mencegah penularan Covid-19 dan guna meningkatkan kepercayaan masyarakat.

"Makannya hotel-hotel dilengkapi dengan CHSE. Itu maunya supaya memberikan daya tarik kepada tamu bahwa kita ini aman. Tapi dengan begini, kan terpuruk lagi," imbuh Agoes.

Adapun, Pemerintah Kota Malang menerapkan PPKM yang menjadi kebijakan pemerintah pusat. PPKM itu harusnya berakhir pada 25 Januari 2021, tetapi diperpanjang hingga 8 Februari 2021.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Selama PPKM, Okupansi Hotel Tertinggi di Kota Malang Hanya 20 Persen

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved