Berita Indonesia Terbaru

Wisata Goa di Indonesia Semakin Diminati Wisatawan, Bisa Ekspedisi hingga Berhari-hari

Melihat hal tersebut, kini wisatawan sudah tidak lagi menghabiskan waktu kunjungan 1-2 jam saja namun sudah di atas 3-4 jam.

Editor: Ekayana
Reza Deni/Tribunnews.com
Aktor sekaligus Traveler Ramon Y Tungka dalam ekspedisi Sangkulirang-Mangkaliat pada November 2020 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Indonesia kawasan karst seluas 154.000 kilometer persegi yang terbentang dari Sumatera-Papua.

Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan wisata goa. 

“Potensinya besar sekali sebetulnya. Pengembangan wisatanya pun, di awal konsep wisata seperti halnya masuk museum bawah tanah, sekarang tuntutannya sudah ke petualangan,” kata Ketua Bidang Wisata dan Konservasi Asosiasi Wisata Goa (Astaga) Ferry Saputra.

Baca juga: Lebih Dari 100 Spot Paralayang yang Tersebar di Seluruh Indonesia Kini Siap Dikembangkan

Baca juga: Berkunjung ke TN Baluran Banyuwangi, Kini Wisatawan Diwajibkan Rapid Antibodi

Pernyataan tersebut disampaikan olehnya dalam webinar Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) bertajuk

“Membangkitkan Kembali Pariwisata Indonesia Melalui Wisata Petualangan” pada Kamis (14/1/2021).

Melihat hal tersebut, kini wisatawan sudah tidak lagi menghabiskan waktu kunjungan 1-2 jam saja namun sudah di atas 3-4 jam.

Dalam pengembangan wisata minat khusus atau wisata petualangan—dalam hal ini wisata goa, Ferry mengungkapkan, pada November 2020 pihaknya bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melakukan kunjungan ke Kalimantan Timur (Kaltim).

“Di kawasan Sangkulirang. Ada rencana jadi wisata petualangan sifatnya ekspedisi. Pengunjung tidak masuk ke satu goa, tapi dua goa kemudian dilakukannya bisa 4-5 hari di sana,” ujarnya.

Selama melakukan penjelajahan di Sangkulirang, Ferry mengatakan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata ekspedisi karena memiliki hal unik seperti lukisan jiplakan tangan di beberapa goa.

Adapun, setelah ditelaah lebih lanjut dan mengumpulkan beberapa informasi, jiplakan tangan tersebut memiliki kemungkinan merupakan jiplakan tertua di dunia dengan usia sekitar 40.000 tahun.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved