Kuliner Indonesia

Mengenal Sejarah Tiwul, Makanan Pengganti Nasi Saat Masa Penjajahan Jepang

Tiwul biasa disebut sebagai jajanan pasar, bebarengan dengan jenis makanan lain seperti klepon, lemper, nagasari, cenil hingga mendut.

Penulis: Ekayana
Editor: Ekayana
1355317823
Jajanan khas Indonesia yang terbuat dari singkong (1355317823) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Makanan tradisional, tiwul merupakan makanan tradisional khas Jawa yang saat ini masih eksis di kalangan masyarakat.

Tiwul biasa disebut sebagai jajanan pasar, bebarengan dengan jenis makanan lain seperti klepon, lemper, nagasari, cenil hingga mendut.

Jajanan pasar dalam istilah Bahasa Jawa disebut “nyamikan”.

Unik, Di Tengah Pandemi, Chef Ini Ciptakan Makanan Bertema Corona Virus

Mengenal Oreo Supreme, Hasil Kolaborasi Brand Dunia yang Ciptakan Snack Harga Selangit

Heri Priyatmoko, sejarawan sekaligus pengajar program studi sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan bahwa jajanan pasar telah lama berada di Jawa.

Sebelum dikenal sebagai jajanan, tiwul atau thiwul sebenarnya adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang biasa dikonsumsi jadi makanan sehari-hari oleh masyarakat Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar.

“Tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang tahun 1960-an,” kata Heri pada Kompas.com Rabu (4/9/2019).

Tiwul dibuat dari singkong yang dijemur sampai kering atau yang biasa disebut gaplek. Gaplek ini kemudian ditumbuh hingga halus kemudian dikukus hingga matang.

Makanan di daerah tandus

Tiwul juga identik dengan santapan harian warga miskin di daerah tandus. Tiwul jadi salah satu cara masyarakat untuk mempertahankan diri dari ancaman kelaparan ketika musim kemarau berkepanjangan.

Namun tak hanya dimakan saat musim kemarau, di tempat seperti Dusun Kalisonggo, tiwul bisa dimakan sepanjang tahun.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved