Kuliner Indonesia

Sejarah Sayur Genjer, Penyelamat Wong Cilik Saat Krisis Pangan Era Penjajahan Jepang

Tak disangka, jenis tanaman ini kerap jadi pilihan untuk dimasak dan cukup populer. Genjer punya rasa yang pahit dan tekstur yang lembut dan kenyal

Penulis: Ekayana
Editor: Ekayana
KOMPAScom / Gabriella Wijaya
Sayur genjer tumis tauco dari Rumah Makan Tekko. (KOMPAScom / Gabriella Wijaya) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Tanaman genjer atau eceng merupakan sejenis tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di sawah atau perairan dangkal.

Biasanya ditemukan bersama-sama dengan eceng gondok. 

Tak disangka, jenis tanaman ini kerap jadi pilihan untuk dimasak dan cukup populer.

Genjer punya rasa yang pahit dan tekstur yang lembut, kenyal, dan sedikit renyah.

Mengenal Sejaragh Tiwul, Makanan Pengganti Nasi Saat Masa Penjajahan Jepang

Tak Disangka, Ketupat di Indonesia Ternyata Sudah Ada Sejak Abad ke-15

Biasanya genjer diolah menjadi sayuran pendamping makan nasi seperti ditumis atau direbus biasa untuk jadi lalap.

Sayuran satu ini ternyata punya sejarah cukup panjang.

Sayur genjer yang memiliki nama latin Limnocharis flava sejak dulu telah menjadi sayur primadona ‘wong cilik’ khususnya di zaman penjajahan Jepang.

Pakar kuliner Fadly Rahman mengatakan, sayur genjer sejak dulu dikonsumsi oleh rakyat di pedesaan Jawa dan Sumatera untuk menu makan sehari-hari.

“Pada masa-masa sulit sekitar tahun 1930-an pernah dianggap sebagai menu penyelamat ketika krisis pangan,” kata Fadly pada Kompas.com, Sabtu (28/9/2019).

“Genjer jadi lalapan orang Sunda, biasa lalap yang direbus atau ditumis lalu dinikmati dengan nasi, ikan air tawar atau ikan asin lalu dicocol dengan sambal,” lanjutnya.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Sejarah Panjang Sayur Genjer, Makanan Wong Cilik Saat Krisis Pangan

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved