Penyelenggara Haji Cari Cara untuk Bertahan Usai Haji 2020 Batal Berangkat

pihaknya mengaku tengah fokus mencari pelampung atau perlindungan untuk tetap dapat bertahan

ANTARA FOTO/HANNI SOFIA
Umat Muslim berdoa saat melaksanakan wukuf di Jabal Rahmah, Padang Arafah, Arab Saudi, Sabtu (10/8/2019). Jemaah haji dari seluruh dunia mulai berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. (ANTARA FOTO/HANNI SOFIA) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa pemerintah kini membatalkan ibadah haji 2020. Hal ini karena wabah pandemi yang belum usai--baik di Indonesia atau di Arab Saudi.

Kondisi ini disebut menjadi pukulan telak bagi industri perjalanan ibadah haji. Hal ini diakui salah satunya Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Hadapi Krisis Virus Corona, ASEAN Optimalkan Informasi Penanganan Covid-19 Melalui Website

Berniat Menginap di Hotel? Berikut Protokol Kesehatan Saat New Normal Diberlakukan

Sekretaris Jenderal Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji Khusus (Himpuh) Anton Subekti menyebutkan, kali ini biro Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) yang paling terpukul akibat keputusan tersebut.

"Tentu ini pukulan komplit, karena sebelumnya kami sudah terpukul pada saat Arab Saudi resmi menghentikan sementara visa Umrah Februari lalu," kata Anton dalam webinar ASITA, Sabtu (6/6/2020) bertajuk "Penundaan Haji 2020 dan New Normal Perjalanan Umrah". "Sekarang ditambah pemerintah kita membatalkan haji tahun ini secara sepihak," lanjutnya.

Menanggapi pembatalan haji ini, pihaknya mengaku tengah fokus mencari pelampung atau perlindungan untuk tetap dapat bertahan. Pasalnya, secara otomatis, para pekerja atau pelaku mulai dari agen perjalanan, karyawan kian lama dirumahkan.

Diakui Anton, PIHK yang sebelumnya masih memiliki harapan jika haji tahun ini dapat dilakukan. Namun kini mengalami hal yang sama dengan penyelenggara umrah.

"Jadi sama-sama kita mencari pelampung, untuk bagaimana menyelamatkan teman-teman ini," ujarnya. PIHK sudah berkomunikasi dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mencari cara menanganinya.

Pada tahap pertama, ujar Anton, pihaknya telah mewujudkan bantuan sosial bagi para pekerja di lingkungan penyelenggara umrah dan haji yang terdampak.

"Kami baru bisa wujudkan kurang lebih 2.500 paket sembako yang kemudian kami sebarkan untuk teman-teman karyawan yang tidak memiliki lagi penghasilan. Jadi InshaAllah program ini akan kami lanjutkan dalam tiga tahap bersama BPKH," ungkapnya.

Anton melanjutkan, hingga kini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan BPKH terkait bantuan apa lagi yang akan diberikan kepada para pekerja. Hal ini menurutnya akan berlangsung hingga musim ibadah umrah dan haji bisa kembali diadakan.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved