Pembukaan Pariwisata Indonesia Saat New Normal Beresiko Tinggi

Presiden Joko Widodo mengakui, membuka kembali sektor pariwisata di tengah pandemi virus corona Covid-19 yang masih berlangsung berisiko tinggi

shutterstock.com/Davide+Angelini
Ilustrasi wisatawan di Bali.(shutterstock.com/Davide+Angelini) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Pembukaan pariwisata Indonesia saat new normal ternyata memiliki risiko cukup besar. Hal tersebut diungkapkan Deputy of President ASEAN Tourism Association (ASEANTA) Eddy Krismeidi Soemawilaga. Eddy mencontohkan kasus Covid-19 di Korea Selatan yang kembali melonjak seiring dengan pembukaan kembali pariwisatanya, pada akhir Mei 2020.

Sebelumnya, pada rapat terbatas Kamis (28/5/2020), Presiden Joko Widodo mengakui, membuka kembali sektor pariwisata di tengah pandemi virus corona Covid-19 yang masih berlangsung berisiko tinggi.

Prediksi Perubahan Bisnis Kuliner Saat Era New Normal

Jika Angka Covid-19 Naik Saat New Normal, Pariwisata akan Kembali Dihentikan

"Saya sepakat bahwa ada risiko yang cukup besar dalam membuka sektor pariwisata, seperti kasus Korea Selatan yang kasusnya minggu ini melonjak," katanya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/5/2020). Ia menuturkan kemungkinan pelonjakan kasus Covid-19 yang tinggi bisa terjadi pada saat New Normal berlangsung. Berkaca pada Korea Selatan yang menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan jelas, kasus Covid-19 tetap akan mengintai wisatawan.

"Walaupun pada tahap awal untuk pasar yang terbatas, misalnya wisatawan domestik, dan perorangan atau kelompok kecil," terangnya. Oleh karena itu, Eddy mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memulai kembali industri pariwisata.

Ia mencontohkan bagaimana maskapai penerbangan dapat meyakinkan bahwa penumpang pesawat terbang yang diangkut semua dengan kondisi sehat atau tidak punya kasus Covid-19. Selain itu, pesawat juga perlu melihat fasilitas kesehatannya apakah memadahi atau tidak, kata dia.

"Hal ini bisa jadi peluang bagi mulainya kembali industri pariwisata di daerah tersebut," ujarnya.

Pemanfaatan Teknologi

Eddy juga menyarankan agar Indonesia perlu menerapkan pemanfaatan teknologi yang canggih untuk mengontrol setiap orang atau wisatawan yang datang ke daerah. Hal ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di tempat-tempat wisata jika suatu waktu kembali dibuka.

"Contoh contact tracing seperti PeduliLindungi bisa digunakan untuk berbagai keperluan dokumentasi dan proses registrasi yang saat ini dilakukan oleh setiap daerah secara berbeda-beda," jelas Eddy. Eddy juga mengatakan bahwa peningkatan kemampuan aplikasi tersebut di tahap awal akan sangat membantu berkembangnya sektor pariwisata satu daerah. "Karena mengurangi kebingungan masyarakat dan pada saat yang sama membantu pemerintah mengendalikan Covid-19 secara realtime," tambahnya. Selain itu, menurutnya, akan lebih baik apabila contact tracing bisa digunakan di negara lain sehingga proses perjalanan antar negara ketika sudah dibuka, akan lebih lancar dan mudah.

Perlu waktu untuk wisman

Eddy memprediksi bahwa pariwisata Indonesia perlu waktu yang lebih lama dalam menjaring wisatawan mancanegara, jika melihat situasi kasus Covid-19 yang tak kunjung melandai di Indonesia. Pemerintah di beberapa negara yang menjadi sumber pasar wisatawan di Indonesia, akan melarang warganya bepergian ke Indonesia hingga situasinya terkendali. Baca juga: Labuan Bajo Jadi Pilot Project Pemulihan Pariwisata NTT Menurutnya, Indonesia perlu berpartisipasi dalam hal pembicaraan travel bubble. "Sehingga protokol yang disiapkan bisa sejalan dengan negara-negara yang akan membuka pintu perbatasannya lebih dahulu," pungkas Eddy.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Risiko Besar Intai Pembukaan Pariwisata Indonesia

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved