Usai Pandemi Corona, Kini Prosedur Naik Gunung Akan Lebih Ketat

Kendati demikian, para pemandu gunung yang tergabung dalam Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia ( APGI) telah bersiap membuka kembali setelah pandemi

SHUTTERSTOCK/RYNOISE
Panorama Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. (SHUTTERSTOCK/RYNOISE) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Selama pandemi virus corona, semua tempat wisata ditutup guna mencegah penyebaran virus, tidak terkecuali wisata gunung.

Kendati demikian, para pemandu gunung yang tergabung dalam Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia ( APGI) telah bersiap membuka kembali setelah pandemi ini berakhir.

Lion Air Kembali Buka Penerbangan, Berikut Rute Domestik dan Syarat Penumpang Pesawat

Mengenal Istilah Begpackers, Fenomena Turis Asing Minta Uang Layaknya Pengemis

Sekretaris Jenderal APGI Rahman Mukhlis mengatakan, APGI telah menyiapkan beberapa prosedur lebih ketat dan perlu diperhatikan pendaki gunung yang ingin mendaki kembali usai pandemi. "Pasti akan ada penyesuaian, karena ini pandemi masih berlangsung di Indonesia.

Sementara perkiraan pemerintah, aktivitas outdoor itu baru bisa dimulai Juli. Pasti dari segi kesehatan ada hal-hal yang harus diikuti, protokol kesehatan naik gunung akan lebih ketat," kata Rahman dalam sesi #TravelTalk di Live Instagram @kompas.travel, Senin (11/5/2020) pukul 15.30 WIB. Lanjutnya, APGI saat ini tengah berfokus menyiapkan protokoler baru atau Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait wisata gunung setelah pandemi.

Rahman menjelaskan, protokoler tersebut berisi seputar hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan para pendaki gunung mulai dari sebelum mendaki hingga setelah selesai pendakian. "Jadi prosedurnya itu tengah kita siapkan mulai dari proses persiapan pendaki di rumah itu bagaimana, terus pemilihan peralatan pendakian," kata Rahman.

"Termasuk juga pemeliharaan kesehatan, transportasi, sampai pada cara pendakian, berkemah, dan turun pendakian. Itu semua sudah di tahap draft. Target kami Juni bisa di-publish ke masyarakat," lanjutnya. Rahman memberikan sedikit bocoran tentang prosedur pendakian gunung setelah pandemi. Salah satu aturan wajib yakni mengenakan masker, membawa hand sanitizer, dan pengecekan kesehatan lebih ketat.

Para pendaki juga diwajibkan membawa surat kesehatan bebas Covid-19 untuk mendaki gunung, kata dia.

"Itu salah satunya, karena kita buat new protokoler ini menyesuaikan dengan aturan yang ada di BNPB dan oleh tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19," kata Rahman. "Idealnya, pendaki gunung enggak akan kaget karena sudah terbiasa mengenakan buff ketika naik gunung," terangnya. Terkait pengecekan kesehatan yang lebih ketat, menurut Rahman akan terjadi pada saat proses administrasi saat tiba di basecamp pendakian gunung.

Sekadar informasi, para pendaki biasanya akan diperiksa kesehatannya sebelum diizinkan mendaki gunung. Namun, setelah pandemi, akan ada prosedur pengecekan kesehatan yang lebih ketat berkaitan dengan Covid-19.

"Misalnya pendaki akan ditanyakan apakah pernah berinteraksi dengan orang PDP Corona, dan sebagainya itu akan ada di syarat administrasi. Akan lebih detail lagi saya kira, yang pasti kita mengikut acuan pemerintah," ujarnya. Ia juga mengatakan pihak wisata gunung atau tur operator akan menegaskan kembali kepada para pendaki yang tidak memenuhi syarat administrasi.

Jika tak memenuhi syarat seperti masalah kesehatan yang mengindikasikan gejala Covid-19, maka pendaki tidak akan diizinkan mendaki. "Itu juga termasuk, jadi kalau misalnya ada calon pendaki yang suhu tubuhnya di atas 37 derajat itu tidak diizinkan. Ini gunanya screening di awal sebelum pendakian, harapannya kan bisa mendeteksi sejak dini apakah si pemandu, pendaki ada indikasi corona," katanya.

Terkait rapid test atau tes cepat pendeteksi virus corona pada tubuh juga akan diimplementasikan di wisata gunung. Rahman mengatakan hal tersebut bergantung pada acuan resmi dari pemerintah pada saat New Normal telah berlangsung. Selain itu, APGI juga telah menyiapkan beberapa upaya lain untuk menghindari pendaki yang membawa surat kesehatan palsu atau dimanipulatif. "Untuk mengakali itu, setelah prosedur kami jadi perkiraannya awal Juni nanti. Kami akan bergerak ke pemerintah, bisa Kemenparekraf atau KLHK, itu nanti kebijakannya ada di mereka," kata Rahman.

"Kita mendorong bahwa di pintu pendakian harus ready dokter, jadi nanti dokter itu buat validasi, dan jika sudah mendukung sarana prasarananya, cek Covid-19 langsung di pintu pendakian," jelas Rahman. Kini, APGI berharap pada pemerintah agar hal-hal tersebut dapat terlaksana guna kenyamanan wisatawan atau pendaki gunung pada saat pandemi berakhir.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Prosedur Naik Gunung Akan Ketat Setelah Pandemi Corona, Seperti Apa?

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved