Mengenal Manisan Kolang-kaling Asal Betawi, Bruluk

Orang Betawi menyebut kolang-kaling dengan nama beruluk atau bruluk. Biasanya jadi sajian yang khas untuk disuguhkan pada tamu saat perayaan hari raya

Dok. Shutterstock/Riana Ambarsari
Ilustrasi kolang-kaling.(Dok. Shutterstock/Riana Ambarsari) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Bruluk merupakan sajian khas Ramadan bagi masyarakat Betawi yang kerap jadi buruan anak-anak kecil saat hari Raya Lebaran. 

Orang Betawi menyebut kolang-kaling dengan nama beruluk atau bruluk. Biasanya jadi sajian yang khas untuk disuguhkan pada tamu saat perayaan hari raya. "Pas Lebaran, bruluk atau kolang-kaling atau buah atep termasuk yang jadi inceran tetamu.

Resep Kurma Cokelat, Cocok Untuk Takjil Berbuka

Tak Suka Santan? Ini Cara Membuat Kolak Tanpa Santan

Khususnya anak-anak," jelas budayawan Betawi, Yahya Adi Saputra saat dihubungi oleh Kompas.com, Rabu (29/4/2020).

Kolang-kaling bisa ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Namun, bruluk memiliki warna yang terang seperti merah, hijau, kuning yang mencolok mata. Yahya menyatakan jika bruluk dengan kolang-kaling dari daerah lain, tidak memiliki perbedaan yang menonjol. Namun cara penyajiannya saja yang berbeda. Bruluk disajikan seperti manisan.

Pada saat bulan puasa seperti saat ini, bruluk akan digunakan sebagai pelengkap es campur dan kolak untuk disajikan saat berbuka puasa. Namun saat hari Lebaran, manisan bruluk akan disajikan sebagai sajian tunggal, tanpa campuran bahan lain.

"Kalau lebaran ya manisan bruluk aja, enggak pakai campur-campur," jelas Yahya. Ia juga menjelaskan warna ngejreng dari bruluk mencerminkan karakter Betawi. Hal ini juga sama dengan kudapan lain seperti selendang mayang atau cente manis. Warna merah, hijau, dan oranye berasal dari pewarna seperti daun suji, secang, sari buah, atau kombinasi lainnya menggunakan air soda warna merah.

Cara membuat bruluk

Untuk mebuat bruluk atau kolang-kaling Betawi cukup sederhana. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah memilih buat yang tepat yaitu tidak terlalu tua dan saat dibuka warna buah arennya bening.

Kolang-kaling yang berasal dari buah aren ini biasanya memiliki rasa yang asam dan berlendir. Untuk menghilangkannya, aren dicuci dengan daun bambu. Saat mencuci, jangan sampai kolang-kaling terendam di dalam air terlalu lama. Hal ini akan mempengaruhi warna kolang-kaling. Jadi sebaiknya dicuci dengan air mengalir.

"Kan ada orang abis beli kolang-kaling langsung direndam berlama-lama. Itu membuat warnanya jadi keiteman. Baiknya langsung dicuci, di-kumbah dengan mencampur daun bambu," jelas Yahya. Selesai dicuci, kolang-kaling bisa direndam terlebih dahulu dengan air beras. Setelah itu lanjutkan dengan merebusnya dengan daun pandan dan daun jeruk purut. "Untuk merebusnya pertama didihkan air, setelah mendidih kolang kaling dan daun jeruk purut serta daun pandan dimasukan selama 5 menit, lalu tiriskan, taruh di wadah," kata Yahya. Setelah itu dapat diberi sirup dan gula. Lalu aduk-aduk dan diamkan hingga dingin. Simpan di dalam kulkas karena rasanya makin nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Mengenal Bruluk, Manisan Kolang-kaling Betawi Diburu Saat Lebaran

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved