Bisnis Wisata Bahari Tutup Karena Corona, Pelaku Wisata Selam Terpaksa Banting Setir Jual Hasil Laut

Bisnis wisata selam yang anjlok ini membuat seluruh pelaku usaha wisata selam memutar otak untuk bertahan hidup semampu mungkin

Editor: Ekayana
Oye Selam Indonesia
Wisata selam oleh operator Oye Selam Indonesia (Oye Selam Indonesia) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Semenjak meluasnya pandemi Covid-19, bisnis wisata bahari di Indonesia mengalami penurunan. Para pelaku wisata bahari kehilangan pekerjaan. Sebagian besar sudah diberhentikan.

Ketua Umum Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) Ricky Soerapoetra mengatakan, semua orang yang bekerja di usaha wisata selam, tidak mendapat pemasukan ataupun pendapatan dengan ditutupnya tempat wisata selam.

Corona Belum Mereda, Banda Aceh Batalkan Semua Agenda Wisata Sepanjang Tahun 2020

Akibat Virus Corona, Hotel Tutup di Solo Bertambah hingga 12 Hotel

"Yang paling berharga khususnya wisata selam itu kan SDM (sumber daya manusia), dari segi pekerja informal mulai dari mereka yang mengangkut barang-barang atau alat selam, hingga pekerja tetapnya mulai di-PHK atau dipulangkan, tapi tetap kan perusahaan harus bertanggung jawab," kata Ricky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2020).

Sementara itu, Wakil Direktur Oye Selam Indonesia, Herri, salah satu operator wisata selam di Indonesia menuturkan pemasukan industri wisata selam bergantung pada perjalanan. "Karena memang keseluruhan kegiatan di industri selama ini kan 60 persen harus trip, kalau lokasi sendiri ditutup ya kita engga bisa berbisnis. Akhir Maret kemarin kita sudah berhenti total industrinya," kata Herri saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2020).

Bisnis wisata selam yang anjlok ini membuat seluruh pelaku usaha wisata selam memutar otak untuk bertahan hidup semampu mungkin. Herri mengatakan, semua pelaku usaha banting setir untuk bertahan hidup demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, salah satunya menjual hasil laut.

"Banyak dari kami yang sementara harus banting setir untuk bertahan hidup, terutama dive center yang berada di daerah yang pendapatan mereka dihasilkan dari para tamu pendatang dari luar. Mereka bertahan dengan mencari hasil laut untuk dijualbelikan," ujarnya.

Sementara bagi pelaku usaha wisata selam yang berada di kota besar, ia bersama rekan-rekan lainnya hanya bertahan di rumah dan sebagian memulai berdagang lewat platform online. Herri mengatakan bahwa semua jadwal trip yang sudah dijadwalkan untuk tahun 2020 dibatalkan. Hal ini otomatis membuat pelaku usaha selam tak mendapat pemasukan.

Sementara itu, Ricky menuturkan bahwa sekitar 200 anggota PUWSI yang usahanya terdampak pandemi Covid-19. Namun, ia menduga ada sekitar ribuan pekerja usaha wisata selam di pelosok yang tidak terdaftar PUWSI juga terdampak. Ia menjelaskan bahwa pengeluaran usaha wisata selam antara lain gaji karyawan, pembelian dan perawatan aset selam, serta pembayaran belanja negara seperti listrik dan air.

"Yang paling terpenting saat ini adalah bagaimana pekerja kami bisa hidup, bertahan. Birokrasi jangan dipersulit untuk masa darurat misalnya Kartu Pra Kerja, itu dari kita engga ada yang berhasil daftar," jelasnya.

Pihaknya telah mengusulkan beberapa upaya untuk menanggulangi wabah dampak covid-19 terhadap usaha wisata selam kepada pemerintah, antara lain bantuan langsung tunai, Kartu Pra Kerja, hingga masalah pajak agar segera direalisasikan.

Sebelumnya, Kemenparekraf merealokasi anggaran sebesar Rp 500 miliar untuk membantu menyelamatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam masa darurat COVID-19. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mengatakan pihaknya telah merealokasi anggaran dan menerapkan program khusus selama masa tanggap darurat COVID-19.

Hal tersebut bertujuan agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif termitigasi selama pandemi. Pernyataan Wishnutama dilontarkan setelah Rapat Terbatas (melalui video conference) yang dipimpin Presiden Jokowi dengan topik Mitigasi Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari Istana Merdeka Jakarta, Kamis (16/4/2020).

“Presiden mengarahkan bahwa kita akan melakukan program perlindungan sosial bagi para pelaku wisata dan Kemenparekraf realokasi anggaran Rp500 miliar ini potensinya akan dikembangkan terus,” kata Wishnutama dikutip dari ANTARA. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Keuangan) secara intensif sebagai salah satu upaya untuk dapat memberikan berbagai bantuan terhadap sektor parekraf.

“Realokasi kita juga akan melakukan berbagai macam program yang sifatnya padat karya," jelas Wishnutama. "Dan ini akan eksplor lebih lanjut dengan kementerian-kementerian terkait termasuk stimulus ekonomi untuk industri ekonomi kreatif ini agar bisa bertahan melalui situasi yang saat ini terjadi,” katanya.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Tempat Wisata Selam Tutup, Pelaku Wisata Selam Terpaksa Banting Setir Jual Hasil Laut

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved