Kerap Nongkrong di Burjo? Ketahui Asal-usul Warung Burjo di Wilayah Jogja dan Sekitarnya

Burjo sendiri merupakan akronim dari bubur kacang ijo (hijau). Warung burjo mudah ditemui di setiap sudut Yogyakarta, dari kota hingga kabupaten

shutterstock
Salah satu Warung Burjo di daerah Yogyakarta.(shutterstock) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Warung burjo atau Warmindo merupakan warung cukup populer di daerah Jogja dan Solo. Warung burjo, memang identik dan dekat dengan telinga dan lidah anak kos di daerah istimewa tersebut.

Burjo sendiri merupakan akronim dari bubur kacang ijo (hijau). Warung burjo mudah ditemui di setiap sudut Yogyakarta, dari kota hingga kabupaten.

Disney Bocorkan Resep Sandwich Keju Khas Toy Story, Bisa Dibuat di Rumah

Kafe internet di Tokyo Ditutup Karena Coronavirus, Bagaimana Nasib Penghuninya?

Banyak yang penasaran akan asal-usul warung yang identik dengan pedagang berlogat Sunda, namun merajalela di Kota Gudeg. Salah satu pedagang warung burjo di Sleman, Yogyakarta, bernama Anggi menceritakan asal-usul keberadaan warung Burjo di Kota Gudeg. Anggi asli kelahiran Kuningan, Jawa Barat.

Ia merantau ke Yogyakarta pada 2009, setelah lulus sekolah untuk memulai usaha warung burjo. "Jadi saya dapat cerita ini kan awalnya penasaran, kenapa burjo itu ada di Yogyakarta. Kenapa juga pedagangnya dari Kuningan semua. Nah, saya nanya ke orangtua saya," kata Anggi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/4/2020).

Kebetulan, orang tua Anggi juga memiliki usaha warung burjo. Lantas orang tua Anggi bercerita bahwa orang Kuningan pertama yang berjualan bubur kacang hijau bernama Rurah Salim. Rurah Salim disebutkan merantau ke Yogyakarta pada 1943, dua tahun sebelum Kemerdekaan Indonesia. Ia datang untuk mencari peruntungan di Yogyakarta.

"Dia katanya jualan burjo dipanggul gitu, kayak tukang dawet gitu dulu. Dia jualan bareng istrinya dari Kuningan juga," jelasnya. Setelah kemerdekaan Indonesia, Rurah Salim lantas mengganti cara berjualan burjo dengan cara membuka kios.

Kebetulan burjo buatan Rurah Salim cukup digemari warga atau penduduk Yogyakarta pada kala itu. "Saat itu, katanya kios udah dinamai pakai nama 'Burjo' jadi orang-orang pada tahu nah itu yang dagang bubur kacang ijo," ujarnya. 

Anggi mengatakan, pada saat itu warung burjo benar-benar murni hanya berjualan bubur kacang hijau. Tak seperti sekarang, justru warung burjo banyak yang sudah tidak menjual bubur kacang hijau. Warung burjo kini juga identik dengan berjualan mi instan. Menurut Anggi tren ini dimulai sejak tahu '90an.

"Terus ada juga yang ganti nama dari warung Burjo, jadi Warmindo," jelasnya. Warmindo sendiri merupakan akronim dari warung makanan Indomie.

Pilihan penyebutan warung ini juga berbeda di setiap daerah. Kata Anggi, penyebutan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Barat dan Timur. "Kalau di bagian Indonesia Barat, Jawa Barat, Jakarta itu mereka nyebutnya warkop atau warung kopi," "Nah, kalau semakin ke Timur, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur itu nyebutnya burjo atau warmindo," ungkap Anggi.

Adakah warung burjo di Kuningan? Kendati warung Burjo dan para pedagangnya berasal dari Kuningan, Jawa Barat, nyatanya hanya sedikit ditemui warung burjo di sana. Menurut Anggi, orang Kuningan yang berdagang burjo menyebar di daerah Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Jakarta.

Lewat cerita orang tuanya, Anggi mengatakan bahwa rata-rata pedagang burjo di seluruh daerah, berasal dari Jalan Siliwangi, Kota Kuningan, Jawa Barat. "Hampir 90 persen mah kalau kata saya pedagang burjo dari Kuningan semua, dari Jalan Siliwangi, Kota Kuningan," terangnya Anggi bahkan biasa mudik lebaran bersama dengan pengusaha burjo lain jelang Hari Raya Lebaran. Ia mengatakan, bentuk warung burjo di Kuningan pun juga sama dengan yang ada di Yogyakarta dan daerah penjual burjo lainnya.

"Bentuknya sama juga, ada sponsor dari makanan, minuman. Ya sama kayak di Yogyakarta. Cuman lebih sedikit aja di sana, soalnya pada merantau ke luar," lanjutnya. Sementara itu, Anggi juga mengatakan jumlah warung burjo di Yogyakarta sendiri tak bisa dihitung. Ia mengira mungkin jumlahnya lebih dari seratus. 

Hal ini diungkapkannya karena setiap momen mudik Lebaran, ia melihat pihak sponsor warung burjo selalu menyediakan lebih kurang 40 bus pariwisata menuju Kuningan. "Itu bus isinya Aa' burjo semua, memang sengaja disponsorin dari merek makanan dan minuman yang kita jual," jelasnya.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Asal-usul Warung Burjo di Yogyakarta, Mengapa Pedagangnya Berasal dari Kuningan?

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved