Pandemi Corona, Tren Bikin Roti Oleh Warga Amerika Bikin Pabrik Tepung dan Ragi Habis

Orang-orang kini memiliki waktu di rumah untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan

shutterstock.com/Rawpixel
Ilustrasi roti sourdough.(shutterstock.com/Rawpixel) 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM - Sejak virus corona (Covid-19) melanda Amerika Serikat, warga disana sangat tertarik membuat roti sendiri.

The Washington Post, Selasa (24/3/2020), bahkan menyebutkan seakan-akan semua orang di Instagram adalah pembuat roti. Mereka membuat roti selama mengisolasi diri di dalam rumah.

Lalu memamerkannya di media sosial dan bahkan memberi nama pada ragi alami (sourdough starter) buatan sendiri seperti layaknya memberi nama pada bayi baru lahir. Orang-orang kini memiliki waktu di rumah untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan.

Negaranya Lockdown, Warga Perancis Panik Borong Roti Baguette

Yummy ! Pecinta Kuliner Harus Kesini, Sebuah Kamar Bertema Roti Telah Dibuka di New York

Di antaranya seperti menyiapkan ragi dan memastikannya bisa digunakan, serta membuat adonan. Tidak hanya itu, orang-orang juga mencari hobi untuk dilakukan, atau untuk menafkahi keluarga, atau hanya melakukan sesuatu dengan anak-anak mereka yang sedang belajar di rumah selain bermain video game.

Mengukur, menguleni, dan membentuk adonan bisa menjadi kegiatan yang menenangkan rasa cemas yang datang akibat virus corona. King Arthur Flour, pemasok bahan-bahan pembuatan kue di Vermont, melaporkan bahwa Maret adalah bulan paling sibuk terkait penerimaan pesan dari pengguna media sosial. Perusahaan yang tahun lalu mencapai total 10.000 pesan, kini angka tersebut sudah mencapai 22.000.

Martin Phillip, pembuat roti di King Arthur Flour, juga melihat adanya elemen terapeutik dalam meningkatnya tren membuat roti sendiri di rumah.

“Saya ini ini adalah obat untuk rasa stres dan cemas saat ini. Kita kembali pada insting pengasuhan, dan insting untuk membawa masyarakat menjadi lebih dekat dengan kita, dan roti adalah pusatnya,” kata Philip. Apapun alasannya, kepopuleran yang datang secara tiba-tiba menyebabkan kelangkaan tepung dan ragi yang ada di lorong toko swalayan dan toko online.

Di Michigan, Marty Amlin yang selalu membuat roti terkejut melihat toko swalayannya, Meijer di kota Petoskey, kehabisan ragi dan seluruh bahan-bahan kecuali tepung buatan toko tersebut. Putrinya yang tinggal di Washington juga mengabarinya bahwa toko swalayan dekatnya juga kehabisan ragi dan tepung. Dia mencoba untuk membeli online namun tidak berhasil.

Dia mencatat bahwa King Arthur dan beberapa toko ritel lain juga kehabisan. Kendati demikian, dia tidak ambil pusing karena masih menyimpan lima kemasan. Namun tampaknya bagi para pembuat roti lama maupun baru mereka tidak perlu panik. Para ahli toko ritel dan industri mengatakan bahwa bahan-bahan pembuat roti tidak begitu jauh dari barang-barang permintaan lain seperti tisu toilet dan telur. Situs King Arthur terlihat kehabisan stok ragi dan sejumlah tepung. Namun, perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka berencana untuk menyediakannya kembali dalam satu atau dua hari ke depan.

Vice President of Communications untuk North American Millers’ Association, Christopher Clark, mengatakan bahwa kehabisan tepung tidak menyebabkan suatu bahaya. “Industri memiliki akses ke gandum, memiliki kapasitas yang diperlukan, dan akan memproduksi produk-produk yang pelanggan kami mau secepat yang kami bisa,” kata Chris melalui email. “Saya dengan yakin mengatakan bahwa tidak akan ada kekurangan. Apa yang kami miliki adalah masalah permintaan,” kata Presiden dan CEO American Bakers Association, Robb MacKie.

MacKie memprediksi bahwa permintaan tersebut akan surut dalam beberapa pekan ke depan karena para pemasok akan meningkatkan produksi, melakukan penyediaan ulang, dan para pembeli berhenti membeli dalam jumlah besar. “Saya tidak ingin terdengar ketus, namun ada saatnya kamu akan kehabisan ruang (karena melakukan pembelian dalam jumlah besar),” tutur MacKie.

Seorang profesor psikiatri di Universitas Michigan di Ann Arbor, Michelle Riba, mengatakan bahwa membuat roti untuk menghilangkan stres di tengah wabah virus corona bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sehat. Riba bahkan memberi saran kepada pasiennya, terlebih mereka yang bekerja sebagai penyedia layanan kesehatan atau pengasuh, untuk membuat ritual pada keseharian mereka yang akan memberi rasa senang. “Saat ini, kita memikirkan tentang sesuatu yang sangat mendasar.

Membuat roti adalah kegiatan yang mendasar selama berabad-abad. Kegiatan tersebut juga termasuk dalam hal yang sederhana,” kata Riba. Riba mencatat bahwa masyarakat tidak hanya merasa cemas akibat virus corona dan penurunan ekonomi. Namun juga banyak kegiatan yang biasa dilakukan untuk mengurangi stres, malah sekarang tidak bisa dilakukan. Contohnya pusat kebugaran tutup, salon dan spa yang tutup, dan belanja di toko ritel terasa riskan.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Tren Bikin Roti Sendiri Gara-gara Corona, Warga Amerika Jadi Kehabisan Tepung dan Ragi

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved