Filosofi Dibalik Makanan di Perayaan Imlek

Satu hal unik yang telah menjadi tradisi Tionghoa ialah melakukan simbolisasi atas harapan. Simbolisasi tersebut diwujudkan dalam rupa sajian khusus

google.com
Aneka jenis makanan imlek 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM, SOLO - Serupa dengan budaya manapun di dunia, perayaan Tahun Baru Imlek pun selalu menyiratkan tentang harapan dan kesuksesan yang baru. Imlek juga dimaknai sebagai momen untuk menengok jejak yang telah tertoreh setahun belakangan.

Satu hal unik yang telah menjadi tradisi Tionghoa ialah melakukan simbolisasi atas harapan. Simbolisasi tersebut diwujudkan dalam rupa sajian khusus Imlek. Ketika hendak merayakan Imlek, terdapat beberapa sajian "wajib" sebagai perlambang harapan baru di tahun baru.

Sambut Tahun Baru Imlek 2571/2020, Grebeg Sudiro Akan Kembali Digelar di Solo

Tips Mengatur Kamera untuk Memotret Lampion Imlek di Pasar Gede Solo

Kue keranjang menjadi salah satu sajian ikonik. Bentuknya yang bersusun meruncing seperti pagoda membuatnya gampang dikenali. Pengamat budaya Tionghoa, Aji Bromokusumo menyebut, kue ini disebut kue keranjang lantaran proses pembuatan tradisionalnya menggunakan alat menyerupai keranjang. Kue keranjang disebut sebagai nian (tahun) gao (kue) dalam bahasa Mandarin. Di saat yang sama, ata "gao" juga mengandung makna sejenis "tinggi".

aneka kue keranjang
aneka kue keranjang (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Hal inilah yang membuat kue keranjang selalu disejajarkan dengan harapan menyongsong Tahun Baru Imlek yang berbunyi "nian nian gao gao", setiap tahun semakin tinggi. Mi juga menjadi salah satu sajian yang mengandung harapan. Kalangan Tionghoa memang sering menghidangkan mi pada momen-momen khusus, seperti ulang tahun dan tahun baru. Bentuk mi yang panjang diasosiasikan sebagai lambang umur atau kesuksesan yang tidak terputus.

Aji menambahkan, dalam tradisi China yang masih kental, rebung juga menjadi sajian wajib ketika Imlek. Rebung merupakan tunas bambu yang masih agak lunak untuk dimasak. "Tunas adalah lambang tumbuhnya harapan baru dan bentuk rebung berbuku-buku.

Bambu akan tumbuh tinggi menjulang ke atas. Artinya setiap langkah semakin tinggi dan semakin sukses," imbuhnya, dalam sebuah gelar wicara di Lei Lo Restaurant, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2019). Tradisi China juga mengenal istilah "sam seng" yang berarti tiga macam hewan. Tiga macam hewan ini mewakili habitatnya masing-masing, yakni air, darat, dan udara. Dulu, para petani China memakainya sebagai simbolisasi rasa syukur akan datangnya musim semi.

Sajian ini pun kerap hadir dalam sembahyang leluhur yang diadakan berhari-hari sebelum Imlek. Umumnya, sam seng mengandung ayam atau bebek yang mewakili unsur udara, babi yang mewakili darat, serta ikan sebagai unsur air, dengan jenis bandeng menjadi prioritas. Aji berpendapat, bandeng mewakili filosofi kehidupan setiap tahun yang selalu dihiasi duri.

Di samping itu, bandeng juga melambangkan istilah "nian nian you yu" yakni harapan agar setiap tahun selalu menyisakan sesuatu. Aneka sajian di atas merupakan kebiasaan tradisional kalangan Tionghoa ketika menyambut Imlek. Bukan mustahil, pengaruh modernisasi yang merembes ke berbagai lapisan kehidupan urban lama-kelamaan turut menggerus tradisi ini.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Makna di Balik Sajian Makanan Perayaan Imlek

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved