Pernah Rasakan Depresi Usai Liburan? Ini Gejalanya

Jika terus-menerus memikirkannya, bisa jadi kamu tengah mengalami kondisi Post- Vacation Blues, atau yang lebih dikenal dengan Post-Holiday Syndrome

google.com
ilustrasi traveling 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM, SOLO - Saat beribur, anda pasti merasakan rasa senang dan tak terlupakan--entah karena cuaca, lingkungan, atau tempat wisata di sana.

Namun, tak jarang, saking senangnya dengan tempat wisata tersebut maka akan terus-menerus memutar kembali pengalaman itu di perjalanan pulang seusai berlibur.

Jika terus-menerus memikirkannya, bisa jadi kamu tengah mengalami kondisi Post- Vacation Blues, atau yang lebih dikenal dengan Post-Holiday Syndrome (PHS).

Menggemaskan! di Neko Hatago Jepang, Pengunjung Bisa Puas Bermain dengan Kucing

Barang Berantakan Usai Liburan? Berikut Tips Kembali Rapi Usai Berlibur

Apa itu Post-Holiday Syndrome? Menurut Psikolog Ratih Ibrahim, Post-Holiday Syndrome adalah suatu kondisi yang membuat kualitas dan produktivitas hidup seseorang menjadi terganggu. "Ini (PHS) terjadi pada seseorang setelah liburan. Biasanya karena liburannya terlalu lama.

Mood dia masih liburan padahal dia sudah harus kembali dan berfungsi dalam ritme hidup yang normal seperti kerja atau belajar," kata Ratih saat dihubungi, Sabtu (4/1/2020).

Ratih mengatakan, gejala umum PHS adalah rasa malas, tidak bersemangat, tidak antusias, dan tidak ceria dalam melakukan rutinitas sehari-hari. Meskipun gejalanya sedikit mirip dengan jet lag, namun PHS dapat membuat seseorang uring-uringan. Dengan kata lain, kamu seperti sedikit depresi setelah liburan.

Dalam satu kasus, anak yang terkena PHS terkadang akan selalu ingin bermain terus, sehingga mengganggu waktu belajar.

Sementara untuk orang dewasa, PHS terkadang akan membuat seseorang mengeluh. Jika keluhan terjadi dalam lingkungan kantor, maka hal tersebut akan memengaruhi perasaan dan produktivitas orang lain. Menurut Psikolog Mira Amir, PHS juga dapat terjadi jika seseorang merasa tidak bahagia di tempat asalnya, namun merasa bahagia di tempat yang dijadikan tujuan untuk berlibur.

"Orang akan menyenangi tempat yang membuat mereka senang dan nyaman. Kalau sampai seseorang lebih menyenangi tempat liburan dan tidak ingin pulang, terlebih lagi anak-anak, maka orang tua pasti akan berpikir ada yang salah dengan rumah mereka,” kata Mira.

Hal tersebut bisa saja terjadi jika keadaan rumah tidak sebersih tempat mereka menginap ketika sedang berlibur. Tentunya dengan keadaan seperti itu mereka akan selalu teringat akan tempat mereka berlibur dan membuat mereka sedih karena harus kembali ke rumah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved