Di Jawa Tengah, Bakmi Jawa Hanya Dijumpai Saat Malam Hari, Ini Alasannya

Saat matahari terbenam, para pedagang bakmi jawa baru keluar menjajakan makanan di pinggir jalan, di perempatan, atau berkeliling dengan gerobaknya

google.com
menu bakmi jawa 

TRIBUNSOLOTRAVEL.COM, SOLO - Saat berkunjung ke Jawa Tengah, wisatawan biasanya kerap menjumpai banyak pedagang bakmi di jalan hingga gang-gang.

Makanan satu ini memang jadi semakin istimewa saat disantap di Jawa Tengah.

Musik Keroncong Hingga Musik Reggae Nantinya Akan Meriahkan Solo Car Free Night 2019

3 Wisata Alam Air Terjun di Karanganyar Ini Wajib Dikunjungi Saat Libr Akhir Tahun Bersama Keluarga

Selain banyak pemasak bakmi jawa nan handal, pemakaian arang untuk memasak mie membuat bakmi jawa di Jawa Tengah punya aroma dan rasa yang khas.

Namun, jika diperhatikan penjual bakmi jawa di Jawa Tengah, seperti di Solo umumnya berjualan pada malam hari.

Saat matahari terbenam, para pedagang bakmi jawa baru keluar menjajakan makanan di pinggir jalan, di perempatan, atau berkeliling dengan gerobaknya. 

"Karena kultur dari wong Solo sendiri yang sering melek malem, melek bengi gitu. Jadi ada tradisi atau kebiasaan orang Solo itu pada malam hari itu malah keluar. Di kota lain pada istirahat malah di Solo itu malah kluyuran pada nongkrong, keplek ilat (jajan)," jelas Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma saat di hubungi Kompas.com yang dilansir Tribunsolotravel.com, Kamis, (26/12/2019).

Heri mengatakan, orang Solo percaya malam hari merupakan waktu yang tepat untuk berdiskusi, mencari inspirasi, ide, atau menghasilkan karya seni.

"Iya masyarakatnya (Solo) senang nongkrong di angkringan (HIK) atau hanya bercanda gurau, atau melakukan proses kreatif itu saat malam hari. Nah itu kenapa Solo jadi kota yang tidak pernah mati," jelas Heri.

Penjual bakmi jawa, disebutkan Heri melihat hal tersebut sebagai peluang. Maka tak heran, mereka menjemput rezeki usai waktu Shalat Maghrib. Lapak bakmi jawa dibuka sekitar pukul 19.00 WIB, sama halnya dengan penjual bakmi jawa keliling.

Uniknya penjual bakmi jawa keliling di Solo juga punya ciri khusus. Selain membawa anglo atau kompor arang, mereka biasanya membawa bilah bambu.

"Mereka memanggil pembeli dengan memukul potongan bambu menghasilkan bunyi tek-tek atau tik-tok, bukan duk-duk atau dung-dung seperti suara kentongan yang dipukul," pungkas Heri. Oleh karena bunyinya tersebut, bakmi jawa sering disebut bakmi tek-tek atau bakmi tik-tok di Solo.

Beda hal dengan penjual bakmi madura yang membunyikan bambu dengan suara yang lebih berat, dan sering disebut bakmi duk-duk oleh warga Solo.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Kenapa Bakmi Jawa di Solo Dijual Saat Malam Hari?

Ikuti kami di
Editor: Ekayana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved